ICUDDR-Logo click for home.

< Back to All Resources

Effect of Patient Navigation With or Without Financial Incentives on Viral Suppression Among Hospitalized Patients With HIV Infection and Substance Use A Randomized Clinical Trial

Developed by Indonesia ITTC

Published on 7/12/2016

Introduction



Pendahuluan



Substance use is likely a major factor in poor HIV clinical outcomes. To improve their health, persons with HIV infection and substance use may require treatment for substance use disorders in concert with HIV treatment. This study wanted to explore the effect of patient navigation (care coordination with case management) with or without financial incentives (to achieve predetermined outcomes) on viral suppression among hospitalized patients with HIV infection and substance use compared with current level of care.



Penyalahgunaan NAPZA merupakan faktor utama dalam hasil pengobatan HIV yang buruk. Untuk meningkatkan kesehatan orang dengan HIV dan penyalahgunaan NAPZA, mereka memerlukan pengobatan bagi gangguan penyalahgunaan NAPZA sejalan dengan pengobatan HIV. Penelitian ini ingin melihat efek dari navigasi pasien (koordinasi layanan dengan manajemen kasus) dengan atau tanpa insentif uang (untuk mencapai hasil yang diinginkan) terhadap supresi virus bagi pasien rawat inap dengan infeksi HIV dan penyalahgunaan NAPZA dibandingkan dengan pasien rawat inap yang menjalani tingkat layanan yang ada.



 



 



Methods



Metode



The trial had a 3 parallel-group, repeated-measures design in which inpatients with HIV infection were recruited from 11 hospitals across the United States from July 2012 through January 2014. Participants were eligible if they (1) were inpatients with HIV infection, (2) were at least 18 years old, (3) signed a medical record release, (4) lived in the vicinity, (5) completed the baseline assessment, (6) could communicate in English, (7) provided information on where and how to locate them, (8) had functional status of 60 or higher on the Karnofsky performance scale, (9) reported or had medical records documenting any opioid, stimulant (cocaine, ecstasy, or amphetamines), or heavy alcohol use as determined by the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT)-C within the past 12 months, and (10)met one of the following requirements: had an AIDS-defining illness; had a CD4 cell count less than 350cells/μL at their most recent screening and a viral load of more than 200copies/mL within 6 months; or had a CD4 cell count within 12 months that was 500 cells/μL or less and their viral load was more than 200 copies/mL (or their viral load was unknown with clinical indicators that the patient was likely to have a detectable viral load). The eleven hospital included in this study are located in following cities: Atlanta, Georgia; Baltimore, Maryland; Boston, Massachusetts; Birmingham, Alabama; Chicago, Illinois; Dallas, Texas; Los Angeles, California;Miami, Florida; New York, New York; and Philadelphia and Pittsburgh, Pennsylvania.



Penelitian ini terdiri dari 3 kelompok paralel, degan desain pengukuran-berulang dimana pasien rawat inap dengan infeksi HIV direkrut dari 11 rumah sakit yang tersebar di seluruh wilayah Amerika Serikat dari bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2014. Pasien masuk dalam penelitian jika memenuhi kriteria inklusi berikut ini: (1) pasien rawat inap dengan infeksi HIV, (2) berusia setidaknya 18 tahun, (3) menandatangani surat pembebasan rekam medis, (4) tinggal disekitar (rumah sakit), (5) melengkapi penilaian baseline, (6) dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris, (7) memberikan informasi tentang lokasi dan cara menghubungi mereka, (8) memiliki status fungsi sebesar 60 atau diatasnya untuk skala performa Karnofsky, (9) melaporkan atau memiliki rekam medis yang mencatat penggunaan opioid, stimulan (kokain, ekstasi, atau amfetamin), atau konsumsi alkohol yang berat yang ditentukan oleh the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT)-C dalam 12 bulan terakhir, dan (10) memenuhi salah satu dari persyaratan berikut: memiliki penyakit yang dikategorikan AIDS; memiliki jumlah CD4 kurang dari 350 sel/ μL dari hasil skrining terbaru dan viral load lebih dari 200 kopi/mL dalam 6 bulan; atau memiliki jumlah CD4 < 500 sel/μL dan viral load lebih dari 200 kopi/mL (atau viral load tidak diketahui berdasarkan indikator klinis dan pasien kemungkinan memiliki viral load yang dapat dideteksi). Sebelas rumah sakit yang berpartisipasi dalam penelitian ini terletak di kota-kota berikut: Atlanta, Georgia; Baltimore, Maryland; Boston, Massachusetts; Birmingham, Alabama; Chicago, Illinois; Dallas, Texas; Los Angeles, California;Miami, Florida; New York, New York; and Philadelphia and Pittsburgh, Pennsylvania.



 



In intervention group, patient navigation included up to 11 sessions of care coordination with case management and motivational interviewing techniques over 6 months. Financial incentives (up to $1160) were provided for achieving targeted behaviors aimed at reducing substance use, increasing engagement in HIV care, and improving HIV outcomes. Treatment as usual was the standard practice at each hospital for linking hospitalized patients to outpatient HIV care and substance use disorders treatment.



Dalam kelompok intervensi, navigasi pasien mencakup 11 sesi koordinasi perawatan dengan manajemen kasus dan teknik motivational interviewing selama 6 bulan. Insentif berupa uang (dapat mencapai nominal sebesar USD 1,160) diberikan bagi partisipan yang mencapai target perilaku berupa pengurangan penyalahgunaan NAPZA, meningkatkan kesertaan dalam perawatan HIV, dan memperbaiki hasil klinis HIV. Pengobatan seperti biasa (Treatment As Usual; TAU) merupakan praktik standar pada rumah sakit penelitian untuk menyambungkan pasien rawat inap ke perawatan HIV rawat jalan dan pengobatan adiksi.



 



 



Results



Hasil Penelitian



Of 801 patients randomized, 261 (32.6%) were women (mean [SD] age, 44.6 years [10.0 years]). There were no differences in rates of HIV viral suppression versus nonsuppression or death among the 3 groups at 12 months. Eighty-five of 249 patients (34.1%) in the usual-treatment group experienced treatment success compared with 89 of 249 patients (35.7%) in the navigation-only group for a treatment difference of 1.6% (95% CI, −6.8% to 10.0%; P = .80) and compared with 98 of 254 patients (38.6%) in the navigation-plus-incentives group for a treatment difference of 4.5% (95% CI −4.0% to 12.8%; P = .68). The treatment difference between the navigation-only and the navigation-plus[1]incentives group was −2.8% (95% CI, −11.3% to 5.6%; P = .68)



Dari 801 pasien yang dirandomisasi, sebanyak 261 (32,6%) adalah perempuan (rerata [SD] usia, 44,6 tahun [10.0 tahun]). Tidak terdapat perbedaan dalam angka supresi virus HIV dibandingkan dengan yang tidak tersupresi ataupun kematian pada ketiga kelompok di bulan ke-12. Sebanyak 85 dari 249 pasien (34,1%) dalam kelompok TAU mengalami kesuksesan dalam pengobatan dibandingkan dengan 89 dari 249 pasien (35,7%) dalam kelompok intervensi untuk perbedaan pengobatan sebesar 1,6% (95% CI, −6,8% sampai 10,0%; P = .80) dan dibandingkan dengan 98 dari 254 pasien (38,6%) dalam kelompok insentif-plus-navigasi untuk perbedaan pengobatan sebesar 4,5% (95% CI −4,0% sampai 12,8%; P = .68). perbedaan pengobatan antara kelompok hanya-navigasi dan kelompok navigasi-plus-insentif sebesar −2,8% (95% CI, −11,3% to 5,6%; P = ,68).



 



 



Conclusion



Kesimpulan



Among hospitalized patients with HIV infection and substance use, patient navigation with or without financial incentives did not have a beneficial effect on HIV viral suppression relative to nonsuppression or death at 12months comparedwith treatment as usual. These findings do not support these interventions in this setting and indicate that other approaches are needed to im[1]prove HIV outcomes in this vulnerable population.



Pada pasien rawat inap dengan infeksi HIV dan penyalahgunaan NAPZA, navigasi pasien dengan atau tanpa insentif uang tidak memiliki efek menguntungkan bagi supresi virus HIV relatif terhadap non-supresi atau kematian pada bulan ke-12 dibandingkan dengan TAU. Hasil temuan ini tidak mendukung intervensi yang diuji pada setting yang ada dan mengindikasikan bahwa pendekatan lainnya diperlukan untuk meningkatkan hasil keluaran klinis HIV pada kelompok rentan tersebut.


https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27404184/

Materials

  • JAMA, 2016
    Lisa R. Metsch, PhD; Daniel J. Feaster, PhD; Lauren Gooden, PhD; Tim Matheson, PhD; Maxine Stitzer, PhD; Moupali Das, MD; Mamta K. Jain, MD; Allan E. Rodriguez, MD; Wendy S. Armstrong, MD; Gregory M. Lucas, MD, PhD; Ank E. Nijhawan, MD; Mari-Lynn Drainoni, PhD; Patricia Herrera, MD; Pamela Vergara-Rodriguez, MD; Jeffrey M. Jacobson, MD; Michael J. Mugavero, MD; Meg Sullivan, MD; Eric S. Daar, MD; Deborah K. McMahon, MD; David C. Ferris, MD; Robert Lindblad, MD; Paul VanVeldhuisen, PhD; Neal Oden, PhD; Pedro C. Castellón, MPH; Susan Tross, PhD; Louise F. Haynes, MSW; Antoine Douaihy, MD; James L. Sorensen, PhD; David S. Metzger, PhD; Raul N. Mandler, MD; Grant N. Colfax, MD; Carlos del Rio, MD

 

Related Topics

  • Evidence Based Practices
  • Healthcare
  • HIV/AIDS

This product was developed by this Center under previous funding as part of the Addiction Technology Transfer Center Network through the President's Emergency Plan For AIDS Relief (PEPFAR)/Substance Abuse Mental Health Administration (SAMHSA).