ICUDDR-Logo click for home.

< Back to All Resources

Client and Provider Perspectives on Antiretroviral Treatment Uptake and Adherence Among People Who Inject Drugs in Indonesia, Ukraine and Vietnam: HPTN 074

Developed by Indonesia ITTC

Published on 10/10/2018

Introduction



Pendahuluan



Globally, effective HIV prevention interventions are needed to promote antiretroviral therapy (ART) uptake and adherence among people who inject drugs (PWID). Among PWID, treatment as prevention is more complex, due to several issues including primarily blood-borne transmission and the challenges associated with substance use. Treatment as prevention among PWID may have unique barriers that must be elucidated to realize the full benefits of widespread ART use. HPTN 074 is a multi-site vanguard study assessing the feasibility of an integrated intervention to facilitate treatment as prevention to PWID in Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraine; and Thai Nguyen, Vietnam. Qualitative data were collected one to three months after study initiation/enrollment to inform the intervention and to provide additional data for evaluating the intervention. In this paper, we present an analysis of these qualitative data with the primary goal of describing environmental and population barriers to and facilitators of ART uptake and/or adherence at baseline.



Secara global, intervensi pencegahan penularan HIV yang efekti diperlukan untuk meningkatkan serapan dan kepatuhan minum obat ARV pada pengguna napza suntik (penasun). Untuk penasun, pengobatan sebagai pencegahan bersifat kompleks akibat sejumlah isu seperti penularan melalui darah dan tantangan yang berkaitan dengan penggunaan napza. Pengobatan sebagai pencegahan pada penasun memiliki hambatan yang unik yang harus dijelaskan agar penasun menyadari manfaat penuh dari penggunaan obat ARV. HPTN 074 merupakan studi awal, multi-site, yang meniulai kelayakan dari intervensi terintegrasi untuk memfasilitasi pengobatan sebagai pencegahan pada penasun di Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraina; dan Thai Nguyen, Vietnam. Data kualitatif dikumpulkan satu sampai tiga bulan setelah studi dimulai. Tujuannya adalah untuk menambahkan informasi bagi intervensi dan untuk menyediakan data dengan tujuan utama adalah menggambarkan faktor penghambat dan pendukung dari populasi dan lingkungan bagi serapan dan/atau kepatuhan minum obat ARV pada baseline.



 



 



Methods



Metode Penelitian



Each site purposively sampled 4–10 providers for interviews, with approximately equal distribution of HIV and substance use treatment clinic staff. All study counselors/systems navigators were interviewed at each site. In addition, each site selected for interviews 4–15 PWID who were randomized to receive the intervention, purposively sampling half who had successfully initiated ART and half who had not.



Masing-masing site mengambil sampel purposive sebanyak 4-10 provider untuk wawancara, dengan distribusi staf klinik adiksi dan HIV yang seimbang. Seluruh konselor penelitian/navigator system diwawancara di setiap site. Sebagai tambahan, setiap site memilih 4-15 penasun di kelompok intervensi untuk diwawancarai, disampling secara purposive sebanyak setengah dari penasun tersebut yang sukses memulai minum obat ARV dan setengahnya yang tidak.



 



The semi-structured interview guide covered the following topics: barriers to ART and substance use treatment and perceptions of the HPTN 074 intervention, including counselor/systems navigators and counseling session content. The consent, screening, and interviews were all conducted in the local language. Each participant received the equivalent of 8-10 USD for time and travel to complete the interview. Interviews were audio recorded and interviewers also recorded field notes to document their impressions and observations. All audio recordings were transcribed by the site-specific interviewers or external transcriptionists and translated to English for analysis. Transcripts were imported into NVivo11 software for coding and analysis.



Pedoman wawancara semi-struktur mencakup topik berikut: hambatan ke pengobatan adiksi dan obat ARV serta persepsi intervensi HPTN 074, termasuk konselor/navigatgor system dan muatan dari sesi konseling. Setiap partisipan wawancara menerima uang sebesar 8-10 dolar amerika untuk waktu dan perjalanan yang dihabiskan untuk menghadiri wawancara. Wawancara tersebut direkam dan pewawancara mencatat impresi dan obervasi mereka selama wawancara berlangsung. Seluruh rekaman suara ditranskrip oleh masing-masing pewawancarea atau petugas transkrip eksternal dan diterjemahkan ke bahasa inggris untuk analisa. Transkrip dimuat ke software NVivo11 untuk pengkodean dan analisa.



 



A matrix was developed to explore emergent themes and patterns around barriers to and facilitators of ART. Barriers and facilitators were compared across participant type (provider or PWID) and across study site. Similarities and differences in reported barriers to and facilitators of ART uptake and adherence were identified and described.



Matriks dikembangkan untuk mencari tema dan pola yang muncul sekitar faktor penghambat dan pendukung obat ARV. Kedua faktor tersebut dibandingkan antara partisipan (penyedia layanan atau penasun) dan antar site penelitian. Kesamaan dan perbedaan yang dilaporkan terkait kedua faktor tersebut diidentifikasi dan dijelaskan.



 



Results



Hasil Penelitian



 




  1. Barriers and facilitators to ART uptake: provider perspectives



Faktor penghambat dan pendukung serapan obat ARV: perspektif penyedia layanan




  1. Barriers (penghambat)




  • Internal motivation and drug use (motivasi internal dan penggunaan napza)

  • Lack of clinic access (kurangnya akses ke klinik)

  • Financial barriers (hambatan keuangan)

  • Side effects (efek samping [obat ARV])

  • Feeling healthy (merasa sehat)

  • Lack of information (kurangnya informasi)

  • Provider stigma (stigma dari penyedia layanan)

  • HIV disclosure (pembukaan status HIV)



     B. Facilitators (pendukung)




  • Social support (dukungan sosial)

  • Number of clinics (jumlah klinik)



 



      2. Barriers and facilitators to ART uptake: PWID perspectives



Faktor penghambat dan pendukung serapan obat ARV: perspektif penasun




  1. Barriers (penghambat)




  • Lack of clinic access (kurangnya akses ke klinik)

  • Financial (keuangan)

  • Fear (ketakutan)

  • Drug use (penggunaan napza)

  • Provider stigma (stigma dari penyedia layanan)

  • Lack of social support (kurangnya dukungan sosial)



 



       B. Facilitators (pendukung)




  • Feeling sick and internal motivation (merasa sakit dan motivasi internal)

  • Social support (dukungan sosial)



 



Discussion and Conclusion



Diskusi dan Kesimpulan



Overall, differences between provider and PWID perspectives were greater than differences within providers and within PWID across the three countries. Both providers and PWID recognized clinic access, financial barriers, side effects, and general lack of information about how and where to access HIV testing and ART as barriers to ART. However, providers tended to emphasize individual level barriers to ART, such as lack of motivation due to drug use, whereas PWID tended to highlight health systems barriers, such as clinic hours and access to care as well as financial burden, fears, and side effects.



Secara keseluruhan, perbedaan perspektif antara penyedia layanan dan penasun lebih besar dibandingkan perbedaan diantara penyedia layanan dan diantara penasun di ketiga site. Baik penyedia layanan dan penasun memandang akses ke klinik, hambatan keuangan, efek samping, dan kurangnya informasi umum terkait cara dan lokasi untuk tes HIV dan obat ARV sebagai hambatan dalam mengakses obat ARV. Namun demikian, penyedia layanan cenderung menekankan hambatan tingkat individual terhadap obat ARV, seperti kurangnya motivasi karena penggunaan napza, sedangkan penasun cenderung menekankan hambatan dalam system kesehatan, seperti jam klinik dan akses ke perawatan, demikian juga dengan beban keuangan, ketakutan, dan efek samping.



 



The differences between provider and PWID perspectives suggest a gap in providers’ understanding of their patients who inject drugs, which in turn, has implications for patientprovider interactions that may affect PWID willingness to access care or adhere to ART.



Perbedaan perspektif antara penyedia layanan dan penasun menggambarkan adanya kesenjangan dalam pemahaman penyedia layanan akan pasien mereka yang menyuntikkan napza, sehingga memiliki implikasi bagi hubungan penyedia layanan-pasien yang dapat mempengaruhi keinginan penasun untuk mengakses perawatan atau kepatuhan minum obat ARV.



 



The qualitative findings describe the barriers to and facilitators of ART uptake and adherence among PWID in Indonesia, Ukraine, and Vietnam and identified a significant gap in patient-provider perspectives across the three countries. Issues of access were pervasive, highlighting the need for support for PWID in navigating the HIV system. HIV treatment counseling during testing could be used to also help raise awareness about ART and address fears about side effects. PWID stigma among providers, which was unrecognized by providers and most PWID, was apparent through providers’ descriptions of PWID in all three countries and underscores the need for stigma reduction interventions to improve patient-provider communication. Lessons learned from this study will be important as countries with a significant HIV burden among PWID design and implement programs to engage HIV-infected PWID in care and treatment.



Temuan kualitatif menjelaskan faktor penghambat dan pendukung bagi serapan dan kepatuhan minum obat  ARV  di Indonesia, Ukraina, dan Vietnam. Temuan tersebut juga mengidentifikasi adanya kesenjangan yang signifikan dalam perspektif pasien-penyedia layanan di ketiga site penelitian. Isu terkait akses terus berulang, menekankan adanya kebutuhan akan dukungan bagi penasun untuk masuk ke dalam system layanan HIV. Konseling pengobatan HIV selama tes HIV dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kesadaran akan obat ARV dan menjawab ketakutan terkait efek samping obat. Stigma terhadap penasun diantara penyedia layanan, yang tidak disadari oleh penyedia layanan dan sebagian besar penasun, tampak jelas melalui deskripsi penyedia layanan mengenai penasun di ketiga site sehingga menekankan pentingnya intervensi pengurangan stigma untuk meningkatkan komunikasi pasien-penyedia layanan. Pembelajaran dari penelitian ini merupakan hal penting bagi negara-negara dengan kasus HIV signifikan pada penasun untuk mendisain dan melaksanakan program yang melibatkan penasun yang terinfeksi HIV agar masuk dalam perawatan dan pengobatan.


https://www.hptn.org/research/publications/833

Materials

  • HPTN 074
    Vivian F. Go, Rebecca B. Hershow, Tetiana Kiriazova, Riza Sarasvita, Quynh Bui, Carl A. Latkin, Scott Rose, Erica Hamilton, Kathryn E. Lancaster, David Metzger, Irving F. Hofman, William C. Miller

 

Related Topics

  • Evidence Based Practices
  • HIV/AIDS

This product was developed by this Center under previous funding as part of the Addiction Technology Transfer Center Network through the President's Emergency Plan For AIDS Relief (PEPFAR)/Substance Abuse Mental Health Administration (SAMHSA).