ICUDDR-Logo click for home.

< Back to All Resources

DESIGNING AN INDIVIDUALLY TAILORED MULTILEVEL INTERVENTION TO INCREASE ENGAGEMENT IN HIV AND SUBSTANCE USE TREATMENT AMONG PEOPLE WHO INJECT DRUGS WITH HIV: HPTN 074

Developed by Indonesia ITTC

Published on 3/1/2019

INTRODUCTION



PENDAHULUAN



 



Timely engagement in HIV and medication-assisted treatment (MAT) is imperative for PWID to improve health outcomes and prevent ongoing transmission. Novel approaches are needed to design and implement flexible interventions that can be sustainable and tailored to individual PWID needs in multiple settings with limited resources. HIV Prevention Trials Network (HPTN) 074 was designed to determine the feasibility and uptake of an integrated intervention for ART and MAT for HIV-positive PWID in three distinct settings and geographic regions: an academic referral hospital in Indonesia, a specialized infectious disease clinic in Ukraine, and a district level health center in Vietnam (Lancaster et al., 2018). HPTN 074 was found to increase use of ART and MAT, as well as reduce mortality among PWID (Miller et al., 2018). The intervention has the strong potential for substantially reducing morbidity and mortality in PWID globally.



Pengobatan HIV dan adiksi yang dibantu dengan obat (medication-assisted treatment; MAT) merupakan hal yang penting bagi penasun untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya penularan. Pendekatan yang baru dibutuhkan untuk mendisain dan menerapkan intervensi yang fleksibel sehingga dapat berkesinambungan dan disesuaikan dengan kebutuhan individual penasun pada setting yang beragam dengan keterbatasan sumber daya. HIV Prevention Trials Network (HPTN) 074 didisain untuk menentukan kelayakan dan serapan dari intervensi ART dan MAT yang terintegrasi bagi penasun dengan HIV positif di 3 wilayah geografis dan seting yang berbeda: rumah sakit rujukan akademik di Indonesia, klinik spesialis penyakit menular di Ukraina, dan pusat kesehatan masyarakat tingkat distrik di Vietnam (Lancaster et al., 2018). Hasil studi HPTN 074 menunjukkan bahwa intervensi terintegrasi dalam studi ini dapat meningkatkan penggunaan obat ART dan MAT, serta mengurangi angka kematian pada penasun (Miller et al., 2018). Intervensi studi HPTN 074 memiliki potensi tinggi untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan pada penasun secara global.



 



The primary objective for this manuscript is to describe the framework for a flexible, individually tailored multilevel intervention for HIV-positive PWID to improve engagement in HIV care and substance use treatment in multiple settings. We describe our approach for obtaining site-level guidance on an intervention that would be flexible and tailored enough to address key outcomes and scalable across several sites, without being site-specific. We also present the processes for rapid preparation and adaptation, as well as the systematic implementation, including the monitoring and feedback mechanisms for adaptations, utilized for this unique intervention design.to improve ART and MAT outcomes among PWID across multiple settings.



Tujuan utama dari manuskrip ini adalah untuk menjelaskan kerangka kerja dari intervensi multilevel yang fleksibel serta disesuaikan dengan kebutuhan individual bagi penasun dengan HIV positif untuk meningkatkan keterikatan dalam layanan HIV dan pengobatan adiksi di seting yang beragam. Kami menjelaskan pendekatan kami untuk mendapatkan panduang tingkat site tentang intervensi yang akan bersifat fleksibel dan cukup disesuaikan untuk menjawab hasil utama yang dapat diukur di ketiga site, tanpa terlalu spesifik untuk site.



 



 



METHODS



METODE



This study was conducted in three geographically diverse settings: Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraine; and Thai Nguyen, Vietnam. These research-experienced settings were selected based on the HIV epidemic among PWID in each location, as well as the potential to recruit and retain this hard-to-reach population. Within Indonesia, the government has recently focused on the scaled up syringe services programs and MAT. Health services in Ukraine are a vertical system with parallel clinics offering specialized care with limited coordination. As a result, HIV and substance use treatment are primarily delivered at separate clinics by separate specialties (Zaller et al., 2015). Similar to Ukraine’s, Vietnam’s health system is designed as a vertical, three-tiered system that is overseen by the Ministry of Health (Dao, Hirsch, Giang le, 8c Parker, 2013).



Studi ini dilaksanakan di 3 wilayah geografis berbeda: Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraina; dan Thai Nguyen, Vietnam. Ketiga wilayah tersebut, yang memiliki pengalaman dalam melaksanakan uji klinis, dipilih berdasarkan epidemik HIV pada penasun, serta potensi dalam merekrut dan mempertahankan populasi yang sulit dijangkau ini. Saat ini di Indonesia, pemerintah focus meningkatkan program layanan jarum suntik steril dan MAT. Layanan kesehatan di Ukraina merupakan sistem vertical dengan klinik pararel yang menawarkan layanan spesialis dan koordinasi terbatas. Akibatnya, pengobatan HIV dan adiksi dilaksanakan di klinik berbeda oleh spesialis berbeda (Zaller et al., 2015). Sama dengan di Ukraina, sistem kesehatan di Vietnam didisain secara vertikal tiga lapis yang dipantau oeh Kementerian Kesehatan (Dao, Hirsch, Giang le, 8c Parker, 2013).



 



Our intervention was guided by maintenance theory, social cognitive theory, and diffusion of innovation meta-theories of behavior change, as well as theories of cognitive dissonance, role theory, social norms, and social identity that overlap and expand on those meta-theories (Bandura, 1978; Festinger, 1954; Janis & Mann, 1977; Rogers, 2010; Rothman, 2001; Turner, 1975). Our multidimensional framework highlights the role of psychosocial, social networks, and structural processes on behavior change and maintenance. Recent recommendations for improving entry into care, retention, and ART adherence include “multidisciplinary education and counseling intervention approaches”, “one-on-one adherence support to patients through one or more adherence counseling approaches”, and “brief strengths-based case management for individuals with a new HIV diagnosis” (Thompson et al., 2012). The recommendations also include the potential use of paraprofessional patient navigators (Thompson et al., 2012).



Intervensi HPTN 074 didasari pada teori pemeliharaan (maintenance theory), teori kognitif sosial (social cognitive thory), dan meta-teori difusi inovasi perubahan perilaku, serta teori-teori disonansi kognitif, teori peran (role theory), norma-norma sosial, dan identitas sosial yang saling tumpeng tindih dan merupakan perluasan dari meta-teori (Bandura, 1978; Festinger, 1954; Janis & Mann, 1977; Rogers, 2010; Rothman, 2001; Turner, 1975). Bingkai kerja multidimensional yang kami miliki menekankan peran psikososial, jejaring sosial, dan proses structural terhadap perubahan dan pemeliharaan perilaku dan pemeliharaannya. Rekomendasi terbaru dalam meningkatkan akses ke dalam layanan, retensi, dan kepatuhan obat ART meliputi “pendekatan intervensi konseling dan edukasi multidisipliner”, “dukungan kepatuhan satu-satu kepada pasien melalui pendekatan konseling kepatuhan”, dan “manajemen kasus berdasarkan kekuatan yang ringkas untuk individu yang baru didiagnosa HIV” (Thompson et al., 2012).



 



The intervention in HPTN 074 core elements consist of integrated systems navigation (SN) and psychosocial counseling to facilitate entry into HIV care and substance use treatment, facilitate initiation of ART, sustain adherence to ART, and sustain substance use treatment. SN is relatively low intensity, short-term case management, designed to be feasible and sustainable. Index participants received a minimum of two approximately hour-long psychosocial counseling sessions that were individually tailored towards each participant. Participants were offered the opportunity for a minimum of two additional booster sessions for approximately one month and three months after enrollment. The counselor used a standardized needs assessment to determine the index participants’ level of need for counseling on risk reduction, drug treatment entry and retention, HIV medical care, and medication adherence. Based on this assessment, additional optional individual sessions were conducted as part of the intervention.



Intervensi dalam elemen utama HPTN 074 terdiri dari navigasi sistem terintegrasi dan konseling psikososial untuk memfasilitasi entri ke dalam layanan HIV dan pengobatan adiksi, memfasilitasi inisiasi obat ARV, mempertahankan kepatuhan minum obat ART dan pengobatan adiksi. Partisipan indeks menerima sedikitinya 2 kali 1-jam-per-sesi konseling psikososial yang disesuaikan dengan kebutuhan individual setiap partisipan. Partisipan ditawarkan kesempatan untuk sedikitnya 2 sesi booster (tambahan), satu dan tiga bulan setelah enrolmen. Konselor menggunakan lembar penilaian kebutuhan yang terstandarisasi untuk menentukan tingkat kebutuhan partisipan indeks terkait konseling pengurangan risiko, entri dan retensi dalam pengobatan adiksi, layanan medis HIV, dan kepatuhan terhadap pengobatan. Berdasarkan penilaian ini, sesi individual tambahan yang bersifat opsional dilaksanakan sebagai bagian dari intervensi.



 



 



RESULTS



HASIL PENELITIAN



 



The PWID who participated in in-depth interviews (IDIs)reported that there was a substantial amount of misinformation regarding ART initiation, leading to many PWID being unaware of their eligibility for ART. Participants noted that many of their peers had poor adherence or had stopped taking ART. They indicated that those who were adherent to ART generally had strong social support, including an identified support person to assist with HIV care and treatment management. IDIs with support persons of the PWID indicated the importance of understanding the HIV infection and its effect on mental health among those living with HIV.



Penasun yang berpartisipasi dalam wawancara mendalam melaporkan bahwa banyak informasi yang tidak tepat mengenai inisiasi obat ART, yang membuat sebagian besar penasun tidak menyadari bahwa mereka dapat memulai pengobatan tersebut. Partisipan mengetahui bahwa banyak dari teman kelompok mereka yang memiliki kepatuhan minum obat ART yang rendah atau telah berhenti minum obat ART. Mereka mengindikasikan bahwa teman kelompok yang patuh minum obat ART umumnya memiliki dukungan sosial yang kuat, termasuk orang pendukung yang teridentifikasi untuk membantu mereka dengan manajemen pengobatan dan layanan HIV. Wawancara mendalam dengan orang pendukung penasun mengindikasikan pentingnya pemahaman mengenai infeksi HIV dan efeknya terhadap kesehatan jiwa pada penderita HIV.



 



In Indonesia, HIV treatment is decentralized at the primary health care level; however, poor public transport was a significant barrier to receiving treatment. In Ukraine, HIV testing and treatment are generally provided by separate clinics, resulting in delays for engagement in HIV treatment after diagnosis. While in Vietnam, HIV-positive individuals are required to register in the HIV medical care system with a support person, which offers challenges for those unable to identify or recruit a support person.



Di Indonesia, pengobatan HIV sifatnya terdesentralisasi pada level pusat kesehatan masyarakat; namun demikian, kualitas sistem transportasi umum yang rendah menjadi penghalang utama dalam menerima pengobatan. Di Ukraina, tes dan pengobatan HIV umumnya tersedia di klinik yang berbeda, mengakibatkan keterlambatan dalam memulai pengobatan HIV setelah terdiagnosa. Sementara di Vietnam, individu dengan HIV positif diharuskan untuk mendaftar ke sistem layanan medis HIV beserta pendukungnya yang menimbulkan tantangan bagi mereka yang tidak dapat mengidentifikasi atau merekrut orang pendukung.



 



 



DISCUSSION



DISKUSI



 



HPTN 074 used a systematic approach to assist in engagement in care with health systems across a variety of distinct settings. We also manualized and scripted brief sessions for PWID that included booster modules to be administered when relevant. The flexibility of the booster modules allowed the intervention team to address individual participants’ diverse needs and barriers.



HPTN 074 menggunakan pendekatan sistematis untuk membantu dalam memulai perawatan di sistem kesehatan pada berbagai seting yang berbeda. Kami juga mengatur dan membuat skrip sesi singkat bagi penasun yang mencakup modul-modul booster agar dapat dilaksanakan ketika diperlukan. Fleksibilitas dari modul-modul booster tersebut membuat tim intervensi dapat menjawab kebutuhan individual partisipan serta hambatan yang beragam.



 



During the implementation of the HPTN 074 intervention, we identified the high costs of HIV services for enrolled PWID participants across all sites. Although the government provides ART, the mandatory pre-ART testing is often not covered. We adapted the intervention to subsidize the pre-ART testing requirements specifically. Future economic evaluations are urgently needed to identify sustainable approaches for alleviating the financial burden of PWID initiating HIV treatment.



Selama pelaksanaan intervensi HPTN 074, kami mengidentifikasi tingginya biaya layanan HIV bagi partisipan di ketiga site. Meskipun pemerintah memberikan obat ART secara gratis, namun tes sebelum memulai obat ART yang sifatnya wajib tidak termasuk dalam cakupan tanggungan. Kami mengadaptasi intervensi dengan mensubsidi biaya tes sebelum memulai obat ART secara khusus. Kedepannya, evaluasi ekonomis sangat diperlukan untuk mengidentifikasi pendekatan yang berkesinambungan sehingga dapat menghapus beban finansial penasun yang ingin memulai pengobatan HIV.



 



Across all three sites, the systems navigators and psychosocial counselors collected detailed notes identifying participant needs. Adaptations to the intervention and supporting manual were made throughout implementation based on participants’ needs. This approach allowed for a truly flexible and iterative process for addressing the barriers and needs of the participants.



Di ketiga site, navigator sistem dan konselor psikososial mengumpulkan catatan rinci mengenai kebutuhan partisipan. Adaptasi terhadap intervensi dan manual pendukung dibuat sepanjang pelaksanaan penelitian berdasarkan kebutuhan partisipan. Pendekatan ini memungkinkan proses yang fleksibel dan berulang dalam menjawab hambatan dan kebutuhan partisipan.



 



 



CONCLUSIONS



KESIMPULAN



 



Our flexible and scalable intervention provides a flexible and scalable framework for increasing the uptake of ART and MAT among PWID across a variety of limited-resource settings globally.



Intervensi kami yang sifatnya fleksibel dan terukur memberikan bingkai kerja yang fleksibel dan terukur untuk meningkatkan serapan obat ART dan MAT pada penasun di berbagai seting dengan sumber daya terbatas secara global.


https://www.hptn.org/research/publications/878

Materials

  • HPTN 074
    Lancaster KE, Miller WC, Kiriazova T, Sarasvita R, Bui Q, Ha TV, Dumchev K, Susami H, Hamilton EL, Rose S, Hershow RB, Go VF, Metzger D, Hoffman IF, Latkin CA

 

Related Topics

  • Evidence Based Practices
  • Healthcare
  • HIV/AIDS

This product was developed by this Center under previous funding as part of the Addiction Technology Transfer Center Network through the President's Emergency Plan For AIDS Relief (PEPFAR)/Substance Abuse Mental Health Administration (SAMHSA).